Roby Muhammad (tengah) saat memaparkan peran penting komunitas dalam mencegah bahaya diabetes. (Lukman/intren.id)

intren.id – Lingkungan sekitar khususnya komunitas berperan besar dalam membentuk sikap dan perilaku individu di masyarakat. Termasuk dalam membiasakan perilaku dan pola hidup sehat, dalam mencegah munculnya penyakit yang berbahaya salah satunya diabetes. Sebagaimana diungkapkan Sosiolog Roby Muhamad dari Universitas Indonesia (UI).

“Dalam pengambilan keputusan termasuk penerapan pola hidup sehat, individu dipengaruhi kuat oleh microenvironment di mana ia berada dan dengan siapa ia bergaul – seperti keluarga, sekolah, tempat kerja dan tempat tinggal,” jelas Roby dalam talk show yang membahas peran komunitas sebagai motor penggerak melawan diabetes, Selasa (7/1/2020).

Kata dia, karakter yang terbentuk pada microenvironment ini dipengaruhi pula oleh macroenvironment berupa sistem edukasi, kebijakan pemerintah, perkembangan industri, teknologi, dan lain-lain.

“Pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara menanamkan nilai baik seperti pola hidup sehat dalam suatu lingkup sosial agar menyebar luas?” sebut Roby.

Dijelaskan, riset para ilmuwan di MIT menunjukkan komunitas berperan sebagai pemantik semangat dalam pengadopsian gaya hidup dan perilaku sehat di tengah masyarakat. Dalam hal ini akan sangat sulit menerapkan pola hidup sehat, ketika individu tersebut berada di lingkungan yang tidak sehat.

“Karenanya, komitmen yang dilakukan bersama melalui komunitas, menjadi cara efektif dalam proses menanamkan kebiasaan gaya hidup sehat,” terangnya.

Agar penularan sosial atau difusi sosial dalam perilaku sehat dapat terjadi, sambung Roby, yang juga perlu dilakukan adalah dengan membidik secara spesifik banyak komunitas dengan segmen yang berbeda-beda. Misalnya komunitas berdasarkan tempat tinggal, tempat kerja, hobi, profesi dan lain-lain.

Sehingga penyebaran pemahaman dan kebiasaan hidup sehat dapat meluas hingga membentuk masyarakat yang lebih sehat,” jelas Roby.

Menurut dia, diabetes akan selalu muncul pada masyarakat dengan kondisi makanan yang berlebih. Sehingga diperlukan kendali di masyarakat tersebut agar dapat memberlakukan pola hidup sehat sehingga penyakit seperti diabetes tidak terjadi. Peran komunitas dalam hal ini bisa memberikan pesan-pesan positif agar memberlakukan gaya hidup dan menghentikan kebiasaan yang merusak kesehatan dalam kehidupan sehari-hari.

Namun diakui, perubahan sikap misalnya dari pola hidup tak sehat ke gaya hidup sehat, tak bisa serta merta terjadi. Dalam hal ini, dibutuhkan proses penyerapan pengetahuan secara berulang sehingga terjadi pemahaman yang mengubah perilaku seseorang. Dalam hal ini, informasi yang mengubah perilaku individu tidak bisa hanya datang dari satu sumber, melainkan datang dari berbagai sumber.

“Misalnya individu itu mendapatkan informasi pentingnya perilaku hidup sehat untuk mencegah diabetes dari keluarganya. Kemudian ketika dia berada di luar, di komunitas-komunitas lainnya dia juga mendapatkan informasi yang sama, maka individu tersebut akan mulai berpikir bahwa pengetahuan tentang perilaku hidup sehat yang didengarnya tersebut benar dan mulai melakukannya,” urai Roby.

Meski demikian, dia juga mengakui bila lingkungan dan komunitas yang ada sekarang ini penuh dengan perilaku yang tidak sehat. Seseorang yang menerapkan gaya hidup sehat bisa saja menjadi berubah menerapkan perilaku tidak sehat ketika orang-orang di sekitarnya menerapkan gaya hidup tidak sehat.

“Perilaku tidak sehat itu menular. Misalnya yang terjadi saat ini sedang hangat-hangatnya minuman boba. Banyak orang yang beli boba bahkan sampai mengantre. Seseorang yang sebenarnya tidak ingin membeli boba akhirnya ikut-ikutan membeli karena orang-orang di sekitarnya membeli minuman tersebut,” ungkapnya.

Lantas bagaimana cara agar bisa bertahan dalam lingkungan yang tidak baik seperti itu? Roby memberikan tips, salah satunya dengan memanfaatkan media sosial. Yaitu dengan cara mengikuti akun-akun media sosial yang berkonten positif. Dengan kerap menerima paparan informasi dari media sosial yang berkonten positif, akan semakin menguatkan niat sehingga tidak terpengaruh lingkungan yang buruk.

“Media sosial selama ini dipandang dengan citra buruk. Padahal media sosial juga punya sisi positif salah satunya sebagai media dalam mendapatkan informasi-informasi yang positif, salah satunya tentang pola hidup sehat untuk mencegah diabetes,” tegas Roby. (luk)