Pertamina. (JP)

intren.id – Apa kabar proyek kilang di Bontang? Pertanyaan itu memang muncul di benak masyarakat Indonesia, khususnya Kota Taman. Namun bisa dipastikan bahwa proyek pembangunan Grass Roof Refinery (GRR) Bontang sudah sesuai target.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman menjelaskan, di GRR Bontang, kemitraan dengan OOG sudah ditandatangani pada Desember 2018. Selain itu, izin prinsip lokasi dari Gubernur Kaltim sudah diterbitkan dan saat ini sedang dalam proses pelaksanaan studi dan review dokumen Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW).

“Pertamina menyampaikan terima kasih atas dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, sehingga megaproyek bisa berjalan dengan baik. Dukungan yang terus-menerus dari pemerintah, baik pusat maupun daerah, menjadi kekuatan tersendiri bagi Pertamina untuk menuntaskan tugas bersejarah ini,” tegas Fajriyah, melalui keterangan resminya yang diterima intren.id.

Pertamina, kata dia, memastikan pembangunan kilang di dalam negeri mengalami kemajuan signifikan. Termasuk GRR Bontang.

Dia mengatakan, perseroan telah melakukan berbagai akselerasi yang terintegrasi sehingga target-target pelaksanaan proyek bisa terlaksana tepat waktu atau bahkan lebih cepat dari jadwal yang ditetapkan.

Ia menyebut proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) dan GRR yang sedang dijalankan perseroan menjadi kunci agar Indonesia mampu memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) dari kilang sendiri tanpa ketergantungan dengan impor.

Saat ini misalnya, selain GRR Bontang, proyek RDMP Balongan sudah menerapkan dual feed competition sehingga realisasi proyek bisa selesai satu tahun lebih cepat dari jadwal. Studi kelayakan (feasibility study) RMDP Balongan tahap I sudah dilakukan dan dilanjutkan dengan penetapan dan pengadaan lahan. Untuk tahap II, sedang dilakukan studi kelayakan.

Untuk Kilang Balikpapan, sejak Februari 2019 telah memasuki tahap konstruksi. Pada 7 Mei 2019, telah dilakukan penandatanganan akta pendirian PT Kilang Pertamina Balikpapan. Saat ini telah dilakukan pengadaan peralatan utama dan long lead item. Bahkan beberapa peralatan tersebut sudah berada di lokasi.

Sementara Kilang Cilacap, setelah selesai Proyek PLBC, kini RDMP Cilacap sedang dalam tahap penyelesaian valuasi bersama Saudi Aramco. RDMP Dumai dalam tahap negosiasi dengan partner dari Timur Tengah.

Sementara itu, GRR Tuban sudah selesai dengan proses pengadaan lahan dan sedang dalam proses pembayaran. Pertamina dan Rosneft bahkan telah menandatangani kontrak desain Kilang Tuban dengan kontraktor terpilih pada 28 Oktober kemarin. Saat ini telah dimulai pelaksanaan Basic Engineering Design (BED) dan Front End Engineering Design (FEED). Selain itu, telah dilakukan konstruksi fasilitas pendukung dan persiapan lahan restorasi sekitar 20 ha di pesisir pantai.

Dengan demikian, Fajriyah menyatakan proyek RDMP dan GRR akan meningkatkan kapasitas kilang untuk pengolahan minyak mentah menjadi dua kali lipat dari 1 juta barel pada saat ini, menjadi 2 juta barel. Dengan peningkatan signifikan, maka seluruh kebutuhan BBM bisa dipenuhi oleh kilang sendiri.

“Pertamina melakukan sejumlah akselerasi agar proyek yang ditetapkan Presiden Jokowi sebagai proyek strategis nasional ini, bisa segera terwujud. Inilah impian besar kita dalam membangun ketahanan dan sekaligus kemandirian energi,” ujar Fajriyah. (gun)