Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni, Kepala Diskominfotik Bontang Dasuki, dan undangan berfoto bersama. (dok)

intren.id – Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni menerima hasil pencapaian statistik dari Badan Pusat Statistik (BPS) Bontang, Rabu (18/12). Hasil itu dia diterima dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Indikator Statistik Kota Bontang 2019 dengan tema “Menuju Satu Data Kota Bontang untuk Indonesia”.

Menurutnya, data itu sangat penting bagi Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) sebagai leading sector di Pemkot Bontang. “Atas nama Pemerintah Kota Bontang, Bunda (sapaan akrab Neni, Red.) ucapkan terima kasih atas validasi data tersebut,” kata Neni.

Jika melihat kondisi Kota Taman, kata dia, memang agak beda. Pasalnya, Bontang ditetapkan sebagai kota industri. Akhirnya banyak orang masuk Bontang. “Bukan karena angka KB (Keluarga Berencana) gagal, tapi terjadi migrasi,” urainya.

Dia menambahkan, data tersebut harus disinergikan ke pemerintah pusat terhadap data kependudukan. “Itulah sebabnya mengapa Bunda menaikkan santunan kematian menjadi Rp 3 juta agar datanya bisa dicoret dari kependudukan dan menjadi valid,” jelasnya.

Sepuluh tahun sekali, lanjut Neni, data kependudukan akan divalidasi melalui sensus penduduk. Data kependudukan valid itu sangat penting. Karena bisa menentukan beberapa indikator dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni saat memberikan sambutan. (dok)

Tiga kota yang IPM-nya tinggi di Kaltim yakni Bontang, Balikpapan, Samarinda, walaupun saat ini tak bisa disebut tertinggi tapi dengan poin 79, sudah termasuk yang tertinggi.

“Sangat komprehensif sekali kalau ingin membangun Bontang, demi Bontang yang kami cintai melalui satu data untuk Indonesia,” tutupnya. (gun)