Psikolog Chitra Annisya (kiri) memberikan penjelasan tentang pola pengasuhan organik. (Lukman/intren.id)

intren.id – Bukan hanya konsumsi kadar gula yang tinggi, penggunaan gadget juga diklaim turut berkontribusi pada tingkat obesitas yang terjadi di kalangan anak-anak. Lantaran, penggunaan gadget membuat anak kurang banyajk dalam bergerak aktif. Apalagi faktor minimnya ruang terbuka hijau khususnya di kota-kota besar yang menjadi tempat bagi anak dalam beraktivitas sosial.

Chitra Annisya selaku psikolog dari Tim Psikolog TigaGenerasi menjelaskan, fenomena yang terjadi saat ini adalah ruang terbuka semakin terbatas. Sehingga untuk berakhir pekan, rata-rata orang Jakarta pergi ke mal atau pusat perbelanjaan dalam ruangan.

“Kenapa? Karena memang taman-taman hijau itu terbatas jumlahnya. Sehingga memang kesempatan anak-anak untuk bermain di tempat terbuka, terpapar sinar matahari, bergerak secara aktif pun semakin terbatas,” urai Chitra Annisya dalam salah satu acara peluncuran produk susu organik belum lama ini.

Dijelaskan, akibat lainnya dari ruang terbuka yang terbatas dan kemajuan teknologi saat ini adalah 98 persen anak di bawah 8 tahun sudah aktif dan rutin menggunakan gadget. Penelitian ini dilakukan di negara-negara Asia termasuk Indonesia juga.

Sehingga gadget yang meliputi smartphone, tablet, televisi dan lain sebagainya, sudah menjadi bagian sehari-hari yang memang rutin dijalani dan dikonsumsi oleh anak-anak. “Mereka menonton video, bermain games, itu sudah menjadi bagian seperti mengobrol, bagian yang alami,” sebutnya.

Semakin banyaknya pilihan makanan dan minuman dengan kadar gula yang tinggi dan instan saja sudah menjadi ancaman yang menyebabkan obesitas. Ditambah lagi dengan penggunaan gadget yang membuat aktivitas fisik semakin berkurang. Kedua hal ini tentu sangat berkontribusi terhadap masalah obesitas pada anak.

“Karena (dengan bermain gadget) anak jadi diam. Kalau bermain gadget itu yang bergerak kan hanya bola mata dan jari telunjuk atau jempol,” tutur Chitra.

Hal ini menurutnya jelas berbeda sekali ketika anak-anak misalnya berlatih mewarnai secara langsung tanpa menggunakan gadget. Dalam hal ini, anak-anak bakal aktif menggerakkan tubuhnya, yaitu tangan kiri mesti memegang bukunya sembari tangan kanannya harus bergerak secara aktif. Hal tersebut membutuhkan kekuatan motorik halus dan juga perencanaan motorik yang lebih matang.

“Banyak sekali latihan yang dilakukan oleh anak dengan mewarnai secara langsung. Sementara kalau menggunakan gadget, untuk bisa mewarnai dengan rapi tidak perlu latihan banyak-banyak. Tinggal klik, langsung warnanya full (penuh, Red.),” terangnya.

Dengan kondisi demikian, maka tak mengherankan bila aktivitas fisik semakin tereduksi saat ini. Merujuk hasil penelitian yang dilakukan tahun 2017 di Amerika Serikat, 5 sampai 16,5 persen anak usia TK mengalami masalah pemrosesan sensorik. Pemrosesan sensor ini berhubungan dengan sistem indra meliputi kelima indra.

“Dari sistem indra tersebut, saat ini kesempatan untuk melatih sistem sensor itu sangat terbatas. Misalnya tadi untuk mewarnai saja hanya memakai jari telunjuk,” jelas Chitra.

Masalah sensor ini rupanya juga mempengaruhi perkembangan anak secara keseluruhan. Baik dari segi motorik, kontrol postur, fokus konsentrasi, kemampuan bicara, sosial emosi dan juga meliputi kemampuan untuk mengendalikan diri. Dari pengalaman Chitra selama berpraktik psikologi, kerap ditemukan pasien anak-anak dengan keluhan keterlambatan bicara, sulit konsentrasi, dan juga perilaku agresif.

“Setelah diselidiki lebih lanjut ternyata problematikanya itu sangat simpel awalnya. Yaitu kurang stimulasi kegiatan multisensory atau yang melibatkan sistem indra tadi. Sehingga sangat disayangkan,” urai psikolog yang berpraktik di Brawijaya Clinic Kemang ini.

Kata Chitra, konsumsi gula yang tinggi tidak hanya mempengaruhi obesitas. Tetapi juga mempengaruhi kinerja otak dan juga stabilitas emosi. Rupanya, terdapat kaitan antara usus dan otak. Usus dalam hal ini dianggap sebagai otak kedua. Artinya, apa yang dikonsusmi mempengaruhi bagaimana cara berpikir, mengingat dan berkonsentrasi, serta kestabilan emosi.

“Kadangkala orang itu cenderung cemas dan juga aktif. Ternyata setelah dicek, banyak mengonsumsi gula tinggi dan juga makanan-makanan yang tidak sehat,” ungkap Chitra.

Adapun solusi atas permasalahan ini, kata Chitra, yaitu melalui pola pengasuhan alami atau organic parenting. Organic parenting ini berkaitan dengan hubungan antara orang tua dan anak, yang menjadikan kesehatan fisik, mental, dan lingkungan sebagai prioritas utamanya. Asupan makanan dan minuman alami bernutrisi tinggi sangat diutamakan dalam organic parenting ini.

“Kemudian yang kedua adalah interaksi dua arah. Interaksi dua arah itu sekarang sudah semakin terbatas karena baik anak maupun orangtuanya sudah sibuk masing-masing menggunakan gadget. Jadi bukan salah anaknya saja, tetapi harus dilihat kembali bagaimana orang tua menjadi role model bagi anak,” paparnya.

Dalam hal ini apakah interaksi orang tua dengan anak sudah cukup melibatkan sentuhan fisik, kontak mata dan sentuhan verbal dalam berinteraksi dengan anak atau belum. Atau malahan memang lebih banyak sibuk sendiri.

“Kemudian juga kegiatan multisensory, kegiatan-kegiatan yang melibatkan pancaindra, yang banyak melibatkan gerakan aktif perlu lebih diperbanyak. Karena itu menjadi pondasi dasar bagaimana anak bisa tumbuh kembang secara optimal,” sambung Chitra.

Poin penting lainnya adalah perlunya bermain di alam terbuka yang mesti dperbanyak. Hal Ini menurut Chitra juga memang menjadi tantangan tersendiri. Bukan hanya karena orang tua yang sibuk, anak-anaknya juga dewasa ini memiliki banyak kesibukan. Mulai dari banyaknya kegiatan serta les sehingga bila tidak ada taman di sekitar rumah, semakin jarang pergi ke tempat terbuka seperti ke pantai atau ke pegunungan dan berakhir ke mal.

“Padahal berdasarkan penelitian, paparan sinar matahari itu sangat bagus bagi anak. Karena kaya vitamin D sehingga anak itu juga lebih bisa melepas masalah-masalah, beban-beban emosional. Bisa lebih happy, banyak sekali hormon-hormon yang membuatkan happy yang keluar ketika anak terpapar matahari,” bebernya. (luk)

Loading...