Muhammad Khan berperan sebagai Juno dewasa yang menjadi penyanyi lengger. (Fourcolours Film)

intren.id – Kontroversi dan penolakan tak membuat Kucumbu Tubuh Indahku kehilangan daya tarik. Film karya sutradara Garin Nugroho itu baru saja dipilih untuk mewakili Indonesia dalam proses seleksi 92nd Oscars International Feature Film Award. The Indonesian Academy Awards Selection Committee mengumumkannya, Selasa (17/9), di Lounge Plaza Senayan XXI, Jakarta Pusat.

Sebelumnya, ada tiga judul film yang menjadi kandidat kuat. Selain Kucumbu Tubuh Indahku, ada Ave Maryam karya Ertanto Robby dan 27 Steps of May karya Ravi Bharwani. Dari hasil diskusi internal komite yang beranggota 13 orang, ada 10 suara yang memilih Kucumbu Tubuh Indahku untuk mewakili Indonesia. ”Apalagi rekam jejaknya di festival internasional sangat bagus,” kata Reza Rahadian, salah satu anggota komite.

Christine Hakim, ketua Komite Seleksi Film Indonesia, menyatakan bahwa syarat mutlak sebuah film bisa masuk daftar seleksi 92nd Oscars International Feature Film Award adalah film tersebut sudah diputar di bioskop selama minimal satu minggu. Kucumbu Tubuh Indahku tak sekadar dirilis di bioskop Indonesia pada 18 April. Tapi, juga sudah diputar di berbagai festival film dalam dan luar negeri.

Ada berbagai hal yang membuat film tersebut menarik perhatian para juri. ”Ini film yang lengkap,” sebut Christine. Menurut aktris film Kartini itu, Kucumbu Tubuh Indahku menawarkan aspek budaya yang kuat. Di antaranya, kisah penari Lengger, hubungan warok-gemblak, serta kehidupan masyarakat pedesaan Jawa.

Aspek seni pun secara utuh dipaparkan di film. Di samping seni peran dan sinematografi, berbagai seni lain disajikan dalam film dengan judul internasional Memories of My Body itu. Termasuk seni tari dan musik.

Selain budaya, film yang terinspirasi kisah penari lengger bernama Rianto itu menampilkan keindahan dalam hal pemaparan kisah atau bahasa. Lewat tiap adegan, Garin menunjukkan bagaimana cinta, ketertarikan, serta pergolakan hidup si tokoh utama.

Pesan yang ditawarkan film itu cukup relevan. Yakni, tentang bagaimana orang-orang yang punya kuasa kerap kali menindas kalangan minoritas. ”Intinya, film ini kuat dari segi cerita, pesan, dan sebagai karya seni,” simpul Christine.

Garin terkejut sekaligus senang mengetahui filmnya terpilih. Dia mengaku baru tahu dari pemberitaan media alih-alih dihubungi langsung oleh komite. ”Ya, saya sih hormati saja keputusan komite ya,” ujar Garin saat dihubungi kemarin sore.

Saat membuat film yang dibintangi Muhammad Khan, Raditya Evandra, Sujiwo Tejo, dan Whani Dharmawan itu, Garin tidak menargetkan menang festival atau masuk Academy Awards. Sutradara asal Jogjakarta tersebut hanya ingin membuat film dengan isu maskulin-feminin yang ada dalam budaya Indonesia. ”Saya mau ada ruang diskusi dari film ini serta adanya pemahaman keberagaman budaya,” kata Garin. (jpg)