Daging kambing yang dimasak dengan lezat. (Dery Ridwansah/ JPC)

intren.id – Makan daging kambing kerap dituduh jadi pemicu darah tinggi atau kolesterol. Benarkah daging kambing pemicu tingginya kolesterol dan hipertensi? Bagaimana perbandingannya dengan daging sapi? Simak penjelasan dari ahli gizi berikut ini.

Ahli Gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) sekaligus Ketua Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan (Pergizi) Hardinsyah membenarkan memang kolesterol daging kambing lebih banyak dibanding daging sapi. Perbandingannya tak terlalu jauh, hanya 10 persen. Namun dia menegaskan, kolesterol sebetulnya penting juga bagi tubuh.

“Kambing sekitar 10 persen lebih tinggi kolesterolnya. Kalau buat anak-anak dan remaja enggak masalah lah. Karena kolesetrol enggak selalu berasal dari luar tubuh,” katanya kepada JawaPos.com, Sabtu (10/8).


Sebab menurut Hardinsyah, dari total makanan yang disantap atau daging kambing yang dikonsumsi, hanya 1/5 bagian kolesetrol yang diserap dalam tubuh. Maka dari itu esensi menyantap daging kambing lebih baik didistribusikan kepada sesama.

“Karena itulah makna sosialnya daging kambing sebaiknya dibagikan kepada banyak orang agar kita tidak makan berlebihan,” papar Hardinsyah.

Cara memasaknya juga disesuaikan dengan selera. Beberapa daerah lebih suka diolah menjadi gulai, rendang, sate, bahkan rawon. Hardinsyah menjelaskan kolesterol daging kambing bisa diminimalisir dengan cara memotong atau menyayat daging kambingnya serta cara mengolahnya. Misalnya jangan diolah dengan menggunakan santan.

“Kolesterol tergantung sayatnya, mau dimasukkin apa enggak itu bagian lemaknya. Kalau punya darah tinggi atau diabetes sebetulnya jika makan terbatas dan tak menimbulkan lonjakan gula darah atau tekanan darah maka tak masalah. Akan tetapi semuanya konsultasikan dulu dengan dokter,” ungkapnya.

Sebab, kata dia, daging kambing juga mengandung protein dan zat besi yang dibutuhkan tubuh. Jika dikonsumsi 75 gram hingga 100 gram dalam sehari masih dalam batas normal dan memenuhi angka kecukupan gizi. Maka jika mendapatkan jatah daging kambing berlebih, sebaiknya jangam disantap seluruhnya dalam satu hari. Sebaiknya bisa disimpan di dalam lemari es untuk disantap beberapa hari ke depan.

“Protein itu kan baik. Tergantung orangnya, ada yang sensitif misalnya makak daging kambing sedikit saja langsung naik tekanan darahnya. Makanya perhatikan cara mengolah dan introspeksi diri saja,” kata Hardinsyah.

Dalam laman Live Strong disebutkan, nilai gizi daging kambing tergantung terutama pada cara menyiapkannya dan seberapa besar ukuran porsinya. Porsi daging kambing yang dimasak memiliki 124 kalori. Ada 2,6 gram lemak, 0,8 gram lemak jenuh, 25 gram protein dan 64 mg kolesterol dalam satu porsi.

Daging kambing lebih rendah lemak daripada ayam, tetapi lebih tinggi protein daripada daging sapi. Rendahnya kadar lemak jenuh dan kolesterol, dikombinasikan dengan kandungan zat besi dan protein yang tinggi, menjadikan daging kambing pilihan yang baik bagi siapa saja yang mencari daging merah yang sehat. (jpg/uma)

Loading...